Saya berangkat dari satu kegelisahan yang sudah lama terus menggelayut dalam hati dan pikiran saya. Sebagai anak muda yang lama hidup dijalanan dan dibesarkan dilingkungan yang sangat sederhana atau mungkin biasa dikatakan hidup dalam kemiskinan dan kekurangan, sekian banyak kegelisahan dan ketidakpuasan yang terus menghantui pikiran dan perasaan saya. Kata miskin mungkin bukan aib bagi kita, tapi miskin bagi saya sungguh tidak mengenakkan. Sekian banyak kosakata yang terhambur dan dihambur-hamburkan bagi mereka yang berkuasa atau pemegang otoritas kebijakan, tapi tak satupun bisa menyentuh apa yang dirasakan dan dialami oleh mereka yang benar-benar miskin. Satu kesyukuran saya atau mungkin bisa saya katakan anugerah paling indah yang Tuhan tunjukkan, bahwa kemiskinan, kemelaratan, dan kekurangan, bukan saja sebagai kosakata harian yang saya ucapkan, tapi juga saya rasakan dan alami. Hidup dan besar di tengah keluarga petani, bahkan bisa saya katakan buruh tani, karena orang tua saya hanya menggarap areal sempit yang sudah dianggap mati oleh pemiliknya, dari sanalah saya besar dan dibesarkan dengan kesederhanaan itu.
Kesederhanaan bagi saya bukan saja karena kondisi yang memang menuntut saya harus hidup sederhana, tapi juga karena kesederhanaan itu adalah sesuatu yang penting untuk menempa dan mendidik saya agar meraih sesuatu yang saya cita-citakan. Dengan bekal pendidikan dari Pesantren Modern Datok Sulaiman Palopo sejak SMP sampai SMA, saya anggap sebagai ruang untuk menempa diri saya agar lebih dewasa dan realistis dalam menjalani hidup, karena kesederhanaan dan kedisiplinan menjadi santapan sehari-hari yang membuat saya berharap untuk lebih menghargai hidup dan menghargai orang lain.
Berbekal pendidikan dengan latar belakang pesantren dan latar belakang Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik di Universitas Andi Djemma Palopo, dan setelah bergelut lama dengan aktivitas sosial dan pengadvokasian rakyat miskin atau rakyat yang dimiskinkan dan dirugikan oleh pemegang kekuasaan selama ini, maka saya harus dan memberanikan diri untuk terjun total dan mengambil bagian dalam perjuangan kepentingan rakyat banyak. Karena bagaimanapun, perjuangan dijalur parlementariat menjadi solusi jitu untuk menjawab kegamangan dan kegelisahan rakyat selama ini, termasuk kegelisahan orang-orang disekitar saya, baik keluarga maupun kawan-kawan saya yang masih konsisten berjuang dijalur perubahan.
Terakhir saya ingin mengatakan, izinkan saya meski sekali dan mohon doa restu rakyat Palopo agar perjuangan saya untuk terlibat di jalur politik dan mencalonkan diri di pertarungan pemilu 2009, dapat terlaksana serta mendapat dukungan dari mereka yang merasa dirugikan dan merasa bagian dari perjuangan rakyat miskin untuk perubahan. Bagi saya Palopo harus lebih maju dan lebih sejahtera ke depan. Amin.
Wassalam, salam solidaritas dan salam kemenangan rakyat miskin

Komentar Terakhir